Bayar Pajak kini mudah

Dan tidak menakutkan (bener gak sih..?), Kalau benar mengapa harus gentar untuk bayar pajak, Ini situs resmi Direktorat Jenderal Pajak: http://www.pajak.go.id 
  1. Daftar NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), pakai e-reg saja silahkan klik link di atas.
  2. Mau Lapor pajak, tapi malas ketemu orang pajak, pakai e-filing saja
  3. Mau bayar PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan malas ngantri, pakai saja fasilitas pembayaran PBB on-line melalui ATM (Automated Teller Machine)
at 7:13 PM

Manfaat TIDAK TAHU E-MAIL

E-mail bukanlah hal aneh bagi sebagian orang, termasuk kita yang sudah merasakan manfaat besar dengan adanya e-mail, apalagi di jaman serba digital dan pesatnya perkembangan teknologi Komunikasi saat ini. Tapi ternyata tidak demikian bagi sebagian orang di negeri ini, seperti kisah berikut yang saya peroleh dari seorang teman (dengan sedikit modifikasi), Justru Abang satu ini merasakan manfaatnya tidak punya e-mail...hah..??

Dengan langkah gontai dan mata tertunduk lesu Heru bin Sianipar, demikian nama pemuda yang sedang kuliah di sebuah Lembaga Pendidikan merenungi masa depannya ketika itu. Bagaimana tidak sedih? Dalam wawancara pekerjaan untuk menjadi BELL BOY di sebuah hotel berbintang, ditanya soal e-mail - suatu kata yang sangat asing di telinganya.

Kata petugas yang mewawancarainya, pengumuman akan dikirimkan melalui e-mail. Putuslah sudah keinginannya untuk menjadi BELL BOY.

Pikirannya menerawang dan menjelajah kemana-mana, tanpa arah, sambil berjalan melangkahkan kakinya tak tentu arah pula. Tiba-tiba tanpa disengaja tangannya bergerak, dirogohnya saku celananya, dikeluarkan uang lembaran
Rp.100.000,- satu-satunya yang tersisa, lalau diperhatikannya dengan pandangan kosong.

Akhirnya Heru mampir ke pasar, dengan uang Rp.100rb tadi, lalu dibelinya sekeranjang tomat.Dijualnya berkeliling dari rumah ke rumah. Sore hari digenggamnya uang Rp.300 rb hasil penjualan tomat. Dia memutuskan besok akan menjual buah lagi.

Sepuluh tahun pun berlalu, usahanya sudah sangat berkembang. Heru sudah punya armada angkutan untuk distribusi buah yang dijual di pasar, mall-mall dan supermarket.

Suatu hari dia berpikir untuk mengasuransikan asetnya untuk mengurangi resiko usaha yang telah dirintisnya. Datanglah dia ke sebuah perusahaan asuransi. Setelah diberi penjelasan dengan lengkap, petugas bertanya: "Apakah Pak Heru punya alamat e-mail ?, Dijawabnya "tidak punya", dan memang sampai sekarang Pak Heru buta tentang e-mail dan komputer.
Petugas terheran-heran dengan jawaban tersebut, katanya "Bapak hebat sekali, bagaimana jadinya perusahaan Bapak dan Pak Heru sendiri kalau tahu e-mail dan komputer ?".

Pak Heru merenung sejenak, teringat masa mudanya dulu. Kemudian dijawabnya komentar petugas tadi dengan singkat: "Mungkin saya sudah jadi BELL BOY mas..!".

?????

Mulailah dari yang bisa dikerjakan, mulailah dari yang kecil dan mulailah saat ini..!!, kata orang yang punya e-mail: DO IT NOW..!!

Siapkah anda Menjadi Kaya ?

"Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around" - Leo Buscaglia

Jika anda ditanya "Maukah anda menjadi kaya ?" pasti semua akan menjawab "Ya, saya mau kaya". Demikian juga ketika ditanya "Maukah anda menjadi Miskin ?, kita akan menjawab "Tidak..!". Lalu apa jawaban anda jika pertanyaan berikutnya adalah "Siapkah anda menjadi Kaya ?".

Pertanyaan semacam ini sering kita jumpai ketika kita mengikuti seminar-seminar motivasi atau ketika berjumpa dengan orang-orang (presenter) Multi Level Marketing atau Agen Asuransi. Tujuan dari pertanyaan tersebut dan penjelasan-penjelasan berikutnya dari mereka adalah untuk memotivasi para pendengarnya agar bangkit dan menyadari bahwa tidak akan ada yang bisa dihasilkan hanya dengan bermalas-malasan.

Para Motivator sering menggunakan kalimat yang sangat "bombastis" dengan mengatakan bahwa untuk menjadi Kaya kita harus memiliki "Mental Kaya" bukan "Mental Miskin" dan untuk menjadi sukses anda harus memiliki mental sukses. Saya sendiri lebih menyukai menggunakan kata: Untuk Sukses anda harus memiliki Mental Positif bukan Mental Negatif.
Banyak persoalan hidup yang sering kita (termasuk saya pribadi) hadapi yang membuat kita seringkali disebut sebagai bermental Miskin bukan orang bermental Kaya". Persoalan tersebut antara lain: Tidak disiplin, Tidak bertanggung jawab, Tidak percaya diri, Takut mencoba, Takut tantangan, Malu untuk belajar dan tidak sanggup memperbaiki diri.

Satu persoalan dengan lainnya di atas biasanya selalu berkaitan satu sama lain. Coba anda renungkan, jika salah satu dari item di atas anda rasakan ada pada diri anda, biasanya yang lain juga anda miliki.

Bagaimana mengatasi hal itu, kembali kepada kita - pribadi masing-masing, maukah kita merubah masalah di atas menjadi kebiasaan sebaliknya ?. Paling tidak dari sekian masalah di atas ada 2 masalah utama yang akan mempengaruhi masalah lain jika kita mau membiasakannya untuk berubah yaitu Disiplin dan mau Belajar. Dengan membiasakan diri terus menerus untuk tetap Disiplin dan Mau Belajar, kapanpun dan di manapun kita berada, lambat laun cara berfikir, sikap dan mental kita akan berubah menjadi sikap dan mental positif.

Lalu kapan kita bisa memulai merubah kebiasaan buruk itu ? jawabnya SAAT INI JUGA !! Jangan ditunda-tunda lagi.
at 7:36 PM

Reksa Dana kini tidak lagi Menarik

Beberapa bulan yang lalu, Reksa Dana masih menjadi pilihan menarik untuk investasi. Tapi akhir2 ini, sejak Nilai tukar Rupiah terus melemah terhadap Dollar Amerika, Reksa dana bukan lagi pilihan menarik untuk berinvestasi. Banyak investor mulai memindahkan dananya ke Deposito dan Valuta Asing terutama Dollar Amerika. Perpindahan ini terlihat ketika Deposito mulai memberikan suku bunga 8% dan ketika 1 US$ sama dengan Rp. 9.700,-

Nah, bagaimana dengan anda ?

Jika anda memiliki sedikit dana dalam Dollar Amerika, perlu mempertimbangkan untuk menjualnya menjadi Rupiah. Sambil terus mengikuti perkembangan terkini pergerakan Rp - US$, siapa tahu dan mari kita doakan bersama agar Rupiah terus menguat hingga ke US$1 = Rp. 8500 kembali. Ada prediksi yang agak "edan" yang memperkirakan Rupiah akan terus melemah, bahkan bisa mencapai Rp. 12.000 - Rp. 15.000 per 1 US$.

Dan bagi anda yang memiliki investasi di Reksa Dana perlu juga mempertimbangkan untuk memindahkan dana anda ke Deposito, paling tidak ke Deposito berjangka 1 atau 3 bulan, sehingga mudah mencairkan, jika suatu saat ingin memindahkannya kembali ke Reksa Dana ketika kondisi ekonomi Indonesia mulai stabil lagi.

Selamat berinvestasi.

Sistim Identifikasi Nasional Indonesia

Pemerintah akan segera menerapkan Sistim Identifikasi Nasional (SIN). Ditargetkan pada tahun 2009 Indonesia sudah dapat menggunakan nomor identifikasi tunggal. Di Indonesia saat ini terdapat 32 nomor identitas warga negara yang dikeluarkan oleh 32 instansi berbeda, nomor identifikasi inilah yang akan digabungkan dalam SIN. Dengan SIN diharapkan Dirjen Pajak dapat memaksimalkan penerimaan pajak untuk negara secara maksimal.

Proyek besar ini sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu, barangkali masih ada peluang bagi perusahaan anda, terutama yang bergerak di bidang Information Technology (IT) - Konsultan dan Developer.
at 8:57 PM

Sumber Ide Usaha

Salah satu kendala seseorang untuk memulai usaha sendiri adalah tidak memiliki ide usaha, mereka seringkali bingung untuk memulai suatu usaha yang hendak ditekuninya. Padahal banyak cara bisa dilakukan untuk memperoleh atau menemukan ide untuk memulai suatu usaha entah sebagai usaha sampingan lebih dulu baru kemudian menjadi usaha pokok atau justru langsung saja menjadi pekerjaan utamanya. Beberapa sumber ide usaha berikut bisa dijadikan acuan untuk menggali ide-ide usaha, lalu menuliskan apapun yang terlintas dalam pikiran anda, fokuskan hanya pada ide - jangan dulu berfikir modal dan hal lain. Bisa jadi nantinya akan muncul ide usaha baru yang unik.

Sumber ide untuk memulai usaha sendiri antara lain:
1. Pengalaman & Pekerjaan
Pengalaman diri sendiri atau orang lain bisa menjadi guru yang baik dan sumber ide bisnis. Pengalaman buruk/gagal sering kali sulit dilupakan, lalu kita akan berupaya mencari cara baru untuk mengatasinya. Cara ini akan membuka peluang munculnya ide yang menarik. Demikian juga pengalaman kerja yang diperoleh karena Jenis Pekerjaan yang pernah dan sedang ditekuni, juga merupakan sumber sangat besar untuk menghasilkan ide-ide bisnis yang tepat. Seseorang dengan jenis pekerjaan yang sudah lama ditekuni memahami betul bidang usaha apa saja yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pekerjaannya saat itu.

2. Keterampilan
Keterampilan apapun yang sudah dimiliki dan dikembangkan dalam waktu cukup lama akan membentuk naluri atau insting bisnis. Banyak orang yang memulai usaha sendiri berdasarkan pada keterampilan yang mereka miliki.

3. Minat dan Hobi
Minat dan hobi cukup efektif untuk membangun keyakinan dan motivasi kuat untuk mandiri. Orang tidak merasa terbebani bila melakukan kegiatan yang ia sukai, terutama yang berkaitan dengan minat dan hobi.

4. Pengamatan
Mengamati sesuatu yang terjadi di "sekitar" kita bisa menjadi peluang bisnis. Pengamatan ini diperlukan bagi mereka yang ingin mandiri. Identifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi bisa menimbulkan peluang bisnis yang bisa terus dikembangkan.

Sekali lagi, jika anda berkeinginan kuat untuk berwirausaha dan hingga kini belum menemukan ide usaha, ambillah secarik kertas, gunakan sumber-sumber ide di atas untuk membantu imajinasi anda dan mulailah menuliskan ide-ide apapun yang terlintas bahkan yang "aneh" sekalipun.

Selamat mencoba..!!
at 6:40 PM

Manajemen Waktu

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yang tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata, "Baiklah, sekarang waktunya kuis". Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran sekepalan tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah."
Kemudian dia berkata, " Benarkah?" Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum," salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya. Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya, "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya"

"Bukan", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya, sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa, kalau kamu tidak meletakkan batu besar itu sebagai yang pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami atau istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu, antara lain, Hobimu, waktu untuk dirimu sendiri dan kesehatanmu barangkali..?".

"Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar ini sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk melakukannya."
"Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil dalam waktumu maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya waktu berharga yang kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting dalam hidupmu."

Mari kita renungkan kembali...!
de.pinque designed by ZENVERSE || Converted by Blogger Template Place Collaboration One-4-All